Minggu, 19 Februari 2012

MAKALAH BIOPSIKOLOGI


KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas  rahmat dan petunjuknya sehingga makalah “BIOPSIKOLOGI” dapat diselesaikan sebagai mana mestinya meskipun dalam bentuk yang sederhana dan masih terdapat kekurangan yang masih memerlukan perbaikan seperlunya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian makalah ini tidak dapat kami selesaikan tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu patutlah kiranya kami sampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.



Kuala Kapuas         2011

Penulis  









DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar...................................................................................................................    i
Daftar Isi............................................................................................................................     ii
BAB I PENDEHULUAN.................................................................................................    1
A.     PENGERTIAN.....................................................................................              1 
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................     2
A.    PENDEKATAN BIOPSIKOLOGI......................................................  2
B.     PERILAKU BIOLOGIS......................................................................   2
C.     MASALAH-MASALAH YANG MUNEUL DARI CARA
 BERPIKIR DIKOTOMI.....................................................................   4
D.    PERKEMBANGAN PERILAKU (INTERAKSI ANTARA
FAKTOR GENETIK  DANPENGALAMAN)...................................   6

BAB III PENUTUP..........................................................................................................     8
A.    TES KERJA OTAK..............................................................................   8

 
BAB I
PENDEHULUAN

A. PENGERTIAN
Psikologi Faal sebagai cabang Psikologi mengalami perkembangan yang sangatpesat, baik dalam pengembangan teoritisnya maupun dalam penerapannya. Pada dekade terakhir, Psikologi Faal dikembangkan oleh dunia barat sebagai cabang ilmuyang disebut BIOPSIKOLOGI. Tujuan dari Psikologi Faal atau Biopsikologi adalahmemahami perilaku berdasarkan aspek biologisnya. Dalam bab ini akan dibahaslebih lanjut mengenai pengertian dan kegunaan Psikologi Faa!.





















BAB II
PEMBAHASAN

A.     PENDEKATAN BIOPSIKOLOGI
BIOPSIKOLOGI adalah cabang dari Ilmu Saraf yang berkaitan dengan segi biologis dari
perilaku. Beberapa ahli menyebutnya dengan "psikobiologi" atau "perilaku biologis" atau"BehavioralNeuroscience"karenamenitikberatkanpadapendekatanbiologidalammemahami psikologi. Jadi Psikologi Faal dalam perkembangan baru juga disebut dengan BIOPSIKOLOGI.
SejakPsikologi lahir,pendekatan secarabiopsikologi secaraimplisit sudahdiungkapkan,namun secara eksplisit baru muncul pada karya D.O Hebb (1949), "Organization ofBehavior". Dalam karyanya tersebut,Hebb mengemukakan teori yang komprehensif tentang fenomena psikologi yang berkaitan dengan persepsi, emosi, pikiran dan memori yang mungkin dikontrol melalui aktivitas otak. Teori tersebut merupakan salah satu dasar yang penting dalam menguraikan dan mengkonkritkan pembahasan tentang perilaku manusia yang kompleks dan kasat mata.Meskipun BIOPSIKOLOGI tergolong ilmu yang masih muda, namun ia memiliki perkembangan yang cepat dan memiliki kaitan yang erat dengan disiplin ilmu yang lain, diantaranya:
a. Biological Psychiatry, membahastentangbiologi y:mgberkaitandengan penyimpangan psikiatris dan perlakuan (treatment)terhadappenyimpangantersebut melalui manipulasi otak
b. Developmental Neurobiology, membahastentangperubahansistemsaraf sejalandengan
                kemasakan dan usia; neurobiology biasa juga disebut dengan neuroscience
c. Neuroanatomy, mempelajari tentang struktur atau anatomi sistem saraf
d. Neurochemistry, mempelajari proses-proses kimiawi yang muncul akibat aktivitas
    saraf, terutama proses yang mendasari transmisi sinyal melalui sel-sel saraf
e. Neuroendocrinology, mempelajariinteraksiantara sistemsarafdengankelenjar-kelenjar
    endokrin dan hormon-hormon yang diproduksinya
f. Neuroethology, mempelajari kaitan antara sistemsaraf dan perilaku yang muncul dalam
   lingkungan alami hewan dan dalam lingkungan laboratorium yang dikontrol ketat
g. Neuropathology, mempelajari penyimpangan sistem saraf
h. Neuropharmacology, mempelajari efek obat-obatan pada sistem saraf, terutama yang
    mempengaruhi transmisi sel saraf  
            i. Neurophysiology, mempelajari respon sistem saraf, terutama yang terlibat dalam
    transmisi sinyal elektronik melalui sel-sel saraf dan antara sel-sel saraf

B.      PERILAKU BIOLOGIS
Tendensi manusia adalah untuk berpikir secara dikotomi, baik-buruk, benar-salah, menarik tidak
menarik, dan sebagainya. Ini adalah dari berpikir yang sederhana. Demikian juga halnya
bila kita dihadapkan pada masalah perilaku,pertanyaan yang biasa muncul adalah :
 (1) Apakah perilaku itu bersifat psikologis atau fisiologis?
(2) Apakah perilaku itu hasil    keturunan atau hasil belajar?
1. Apakah Perilaku Disebabkan oleh Faktor Psikologis atau Faktor Fisiologis?
Pendapat ini muncul sejak zaman Renaissance dimana ilmu-ilmu yang ada berkembangberdasarkan pemikiran dan dogma-dogma yang belum dibuktikan lewat kenyataan.
Menurut dogma-dogmayangberlaku saat itu,perilakumanusia semata-mata disebabkanoleh hukum alam (faktor fisiologis). Beberapa ahli ilmupengetahuan ingin membuktikanfenoma perilaku melalui kenyataan dan bukan melalui dogma dan pemikiran filsafati. Pada zaman renaissance tersebut sering terjadi. bentrokan pendapat antara ahli yang berpikiran modem dan berpikiran dogmatis. Sampai muncul Rene Descartes (dibaca: Day Cart) yang menjembatani kedua perbedaan tersebut dengan menyatakan bahwa dunia ini terdiri dari dua elemen utama, yaitu :
(I) Bendabenda Fisik, atau benda-benda yang perilakunya disesuaikan dengan hukum alam dan   dapat dijadikan objek penelitian ilmiah,
(2) Pikiran Manusia (iiwa atau spirit) yang tidak berkaitan dengan benda fisik tetapi mengkontrol perilaku manusia. Menurut Descartes, bagian tubuh manusia, termasuk didalamnya adalah otak, adalah bagian tubuh yang sifatnya sangat fisikoOleh karena itu adalah perbedaan antara otak dan
pikiran manusia. Otak bersifat sangat fisik, sedangkan pikiran manusia yang mengontrol perilaku bersifat psikologis.
2. Apakah Perilaku Merupakan Hasil Keturunan (Genetik/Nature) atau Hasil Belajar (Nurture)?
Perdebatan mengenai perilaku itu hasil keturunan atau hasil belajar sudah banyak dikenal melalui konsep nature (alami/keturunan) vs. nurture (hasil pengaruh lingkungan/belajar).


PenelitianJohn B.Watson (bapakbehaviorism)menunjukkan bahwa bayi-bayi keturunan
penipu, perampok, pembunuh, dan pelacur dapat tumbuh tanpa sarna sekali menunjukkan
perilaku yang mirip dengan orangtuanya apabila diasuh dalam lingkungan yang sarna sekali
berbeda dengan lingkungan orangtuanya. Sebaliknya, anak seorang pengusaha yang pintar
dan sukses dapat menjadi sangat bodoh dan tumbuh menjadi perampok apabila dibesarkan
dalam lingkungan yang buruk.
Berlawanan dengan pendapat di atas, para ahli Eropa yang menganut paham ethology
menyatakan bahwa perilaku didasarkan pada instinctive behavior, yaitu perilaku yang
umumnya muncul pada spesiesyangsarnameskipuntidakadakesempatan untuk mempelajari
perilaku itu terlebih dahulu. Contohnya perilaku menghisap pada bayi. Meskipun pada
perkembangannya perilaku instinktif ini kurang banyak dianut orang, tetapi kondisi inilah
yang menandai perkembangan awal psikologi.
C. MASALAH-MASALAH YANG MUNEUL DARI CARA BERPIKIR DIKOTOMI
a. Berpikir dikotomi mengenai perilaku yang disebabkan oleh faktor psikologis atau fisiologis    
 Cara berpikir dikotomi mengenai perilaku yang semata-matadisebabkan oleh faktor psikologis dapat menimbulkan masalah karena proses psikologis yang paling kompleks sekalipun(memori,emosi)dapattidakberlangsungapabilaterjadikerusakanotak(fisiologis).
Sebalikya,yang memiliki pendapat bahwa perilaku semata-mata disebabkan oleh faktor fisiologis jugadapat menjadi masalah, karena pada kenyataannya banyak perilaku-perilaku makhluk hidup
(non manusia) yang bisa menyerupai manusia meskipun secara fisiologis berbeda dengan
manusia. Kedua masalah yang timbul di atas (sebab psikologis dan sebab fisiologis) sebenarnya
bermuara pada satu masalah utama yang menyebabkan perilaku, yaitu self-awareness (kesadaran diri). Contoh kesadaran diri yang berkaitan dengan perilaku tidak semata-mata disebabkan oleh aspek psikologis dapat dijelaskan melalui fenomena asomatognosia, yaitu kurangnya kesadaran terhadap bagian tubuhnya sendiriyangumumnyadialami oleh individu yang mengalami kerusakan pada bagian kanan lobus parietal-nya sehingga bagian tubuh sebelah kirinya tidak dirasakan. Contohnya kasus "orang yang terjatuh dari tempat tidur" (Sacks, 1985; Pinel 1993).
Seorang pasien yang mengalami asomatognosia dirawat di sebuah rumah sakit. Sebagai pembuktiankesadaran diri terhadap kakinya, Sacks meletakkan sebuah potongan kaki orang lain yang menjadi korban kecelakaan disamping tempat tidur pasien tersebut ketika ia tertidur lelap.
Saat terbangun, ia begitu kaget melihat sepotollg kaki yang mengerikan terletak ditempat tidurnya, ia lalu melemparkan kaki itu dan berteriak, "Dokter... kaki siapa yang mengerikan itu?". Sacks menjawab, "Itu kakimu, apakah kamu tidak tahu bahwa itu kakimu sendiri". Pasien itu kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke tempat kaki yang tadi dibuangnya dan dipegangnya kaki itu, "Ah dokter cuma bercanda!", Sacks menjawab, "Lihat itu benar-benar kakimu, tetapi kalau kamu merasa itu bukan kakimu lalu dimana kakimu yang sebenarnya?", pasien terlihat agak bingung dan kemudian ia menjawab "saya tidak tahu... dimdna kaki saya dokter?, saya tidak menemukannya, kaki saya hUang, kaki saya hUang ". (Pinel, 1993)
B. Berpikir Dikotomi Mengenai Perilaku Yang Disebabkan Oleh Faktor Nature Atau Nurture
Pada kenyataannya bukan hanya faktor nature dan nurture saja yang mempengaruhi
perkembangan perilaku, perkembangan janin, nutrisi, stress, dan stimulasi sensoris juga
memegang peranan penting dalam perkembangan perilaku. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa perkembangan perilaku bukan hanya dipengaruhi oleh faktor genetik tetapi juga oleh faktor lingkungan (termasuk didalamnya proses belajar dan pengalaman). Oleh karena itu pertanyaan yang muncul dalam cara berpikir dikotomi yang mempertanyakan apakah faktor genetik atau faktor belajar yang berperan, berubah menjadi "berapa besarperan faktor genetikdan berapa besarperan faktor lingkungan dalam perkembangan perilaku?". Tetapi pertanyaan seperti ini sebenarnya tidak akan pernah terjawab dan hanyasebuah pertanyaan konyol karena padakenyataannnyakapasitas perilaku, contohnya seperti inteligensi, tercipta melalui kombinasi faktor genetik dan pengalaman yang perannya sama besar. Analoginya dapat kita lihat pada contoh berikut ini:
Ada seorang mahasiswi yang menanyakan kebenaran hasil sebuah penelitian yang
menyatakan bahwa 1/3 bagian inteligensi dipengaruhifaktor genetik dan 2/3 bagiannya dipengaruhi faktor pengalaman. Pada mahasiswi tersebut kemudian diberikan pertanyaan. Apabila kita mendengarkan sebuah musik yang sangat indah dan menyentuh hati kita, maka apa yang akan kita perbuat untuk mengetahui lebih lanjut tentang musik tersebut, manakah cara yang paling tepat, apakah kita akan menanyakan pemain musiknya ataukah kita akan bertanya pada alat musiknya? Mahasiswi tersebut tertawa dan menjawab bahwa hal tersebut tidak mungkin untuk dijawab karena musik yang kita dengar adalah hasil kombinasi antara keindahan bunyi yang dihasilkan oleh alat musik dan keahlian pemusik dalam memainkannya. Demikian pula halnya denganfaktor genetik dan faktor
pengalaman yang mempengaruhi inteligensi.lnteligensi adalah hasil kombinasi antara
1. Evolusi mempengaruhi faktor genetik yang berpengaruh pada perilaku
2. Setiap gen individu mengembangkan sistem saraf yang memiliki karakteristik sendiri
3. Perkembangan sistem saraftiap individu tergantung pada interaksinya dengan lingkungan   (contoh pengalaman)
4. Kapasitas dan tendensi perilaku individu tergantung pada polaaktivitas neural yangkhas, misalnyapikiran,perasaan, memori, dan sebagainya
5. Perilaku tiap individu muncul dari interaksi antara pola aktivitas neural dan persepsi individu terhadap situasi saat itu
6. Keberhasilan perilaku individu memungkinkan gen yang mengandung perilaku untuk diturunkan pada generasi selanjutnya.
D. PERKEMBANGAN PERILAKU (INTERAKSI ANTARA FAKTOR GENETIK  DAN
PENGALAMAN)
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh hasil penelitian yang intinya menunjukkan
bahwa perkembangan perilaku adalah hasil interaksi antara faktor genetik dan pengalaman.
1. Seleksi Perkembangbiakan Tikus "Pintar" dan Tikus "Bodoh" Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa perilaku tidak semata-mata didominasi oleh factor pengalaman.DalampenelitianiniTryon(1934;Pinel, 1993)berusahamembuktikan bahwa perilaku yang baik dapat dikembangkan melalu pcmilihan keturunan (faktor genetik). Dalam penelitian ini, tikus yang dikategorikan pintar adalah tikus yang sedikit sekali melakukan kesalahan ketika menyusuri lorong maze. Sedangkan tikus yang bodoh adalah tikus yang banyak melakukan kesalahan ketika menyusuri lorong maze. Ketika tikus-tikus tersebut telah mencapai kemasakan seksual, tikus jantan yang paling pintar dipasangkan dengan tikus betina yang paling pintar, demikian juga dengan yang bodoh. Dari keturunan pertama ini dipilih lagijantan yang paling pintar dengan betina yang paling pintar, demikian selanjutnya sampai 21 generasi. Pada generasi ke tujuh mulai tampak perbedaan yang jelas antara keturunan tikus yang pintar dan tikus yang bodoh. Tikus yang paling bodoh dari keturunan tikus pintar menunjukkan kesalahan yang lebih sedikit daripada tikus terpintar dari keturunan tikus bodoh. Untuk menghindari bias dari pola asuh, Tryon mengambil sampel beberapa anak tikus keturunan pintar untuk diasuh oleh tikus bodoh, dan beberapa anak tikus keturunan bodoh diasuh oleh tikus pintar (crossfostering atau asuh-silang). Tapi hasil menunjukkan bahwa anak tikus keturunan pintar yang diasuh oleh tikus bodoh tetap menunjukkan lebih sedikit kesalahan dibandingkan anak tikus keturunan bodoh, demikian juga sebaliknya, anak tikus keturunan bodoh yang diasuh tikus pintar tetap menunjukkan lebih banyak kesalahan dibandingkan anak tikus keturunan pintar. Walaupun hasil dari penelitian Tyron menunjukkan bukti yang nyata bahwa genetic mempengaruhi perkembangan perilaku, namun ada beberapa ahli yang meragukan hasil tersebut karena definisi "pintar" dalam percobaan ini hanya dibatasi pada kemampuan menyusuri lorong maze, ada kemungkinan keberhasilan menyusuri maze bukan sematamata disebabkan oleh keturunan faktor inteligensi yang tinggi tetapi juga oleh ketajaman mata, atau lebih mudah lapar (sehingga lebih agresif dalam mendapatkan makanan di luar pintu maze). Untuk menunjukkan kelemahan hasil penelitian tersebut, Cooper dan Zubek (1958; Pinel, 1993) mengembangbiakkan tikus "pintar" dan "bodoh" seperti pada penelitian Tyron tetapi dengan menunjukkan pengaruh lingkungan dalam perkembangan inteligensi. Tikus yang pintar dan yang bodohdiasuh dalam satukandangyang sarnatetapi dengan kondisi yang berbeda. Kandang pertama hanya berupa kandang biasa, sedangkan kandang kedua berupa kandang yang telah dimodifikasi dengan lorong-lorong kecil, benda-benda yang memiliki daya tarik visual, dan benda-benda lain yangbertujuan untuk menstimulasi atau merangsang dayatariktikus. Setelah mencapai kedewasaan, tikus bodoh tidak menunjukkan kesalahan yang lebih besar daripada tikus pintar apabila ia diasuh dalam kandang yang dimodifikasi. Sebaliknya tikus pintar menunjukkan kesalahan yang hampir sarnadengan tikus bodoh apabila ia diasuh dalam kandang konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman dapat mengurangi efek negatif dari faktor genetik yang kurang baik.
2. Phenylketonuria: Penyimpangan Metabolisme Gen Tunggal Kita lebih mudah mengenali faktor genetik yang menyebabkan penyimpangan perilaku, Dari pada mengenali faktor genetik pada perkembangan perilaku yang normal. Hal tersebut terjadi karena dalam perilaku yangnormal banyak sekali faktor genetik yang mempengaruhi, sedangkandalam perilakuyang tidaknormalhanyadibutuhkan satumacamgenmenyimpang. Contoh yang mudah dilihat adalah penyimpangan neurologis yang disebut dengan phenylketonuria atau PKU.
.

BAB III
PENUTUP

A.TES KERJA OTAK (1)
1. Ahli Biopsikologi yang mempelajari kemunduran daya ingat dari pasien manusia yang
mengalami kerusakan otak, menunjukkan ahli tersebut terjun ke dalam bidang biopsikologi
yang disebut... ...........
2. Bidang Biopsikologi yang mempelajari korelasi fisiologis dan proses psikologis dengan
merekam/mencatat sinyal-sinyal fisiologis dari permukaan tubuh manusia disebut ....
...............................................................................................................................
3. Penelitian biopsikologi dari umumnya melibatkan manipulasi langsung
(operasi, stimulasi elektrik dan kimiawi) atau perekaman aktivitas
4. Bagian dari biopsikologi yang menitikberatkan pada penelitian-penelitian tentang efek
obat-obatan terha dap perilaku disebut dengan .............................................................
5. adalah bagian dari biopsikologi yang mempelajari genetik, evolusi, dan
perilaku penyesuaian (adaptive) dengan menggunakan metode perbandingan (comparative).
12


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar